RSS
Tampilkan postingan dengan label E-Business. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label E-Business. Tampilkan semua postingan

E-business vs E-commerce


E-BUSINESS vs E-COMMERCE

Electronic Business, atau “E-Business” dapat didefinisikan sebagai berbagai proses bisnis yang bergantung ada sistem informasi otomatis, dimana saat ini banyak dilakukan dengan menggunakan teknologi Web-Based. Metode yangg diterapkan oleh E-Business memungkinkan perusahaan untuk menghubungkan data sistem internal dan eksternal dengan lebih efektif dan effisien, serta bekerja lebih dekat dengan pemasok dan mitra kerja. E-Business juga membantu perusahaan dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan pelanggan.

Electronic Commerce, atau “E-Commerce” merujuk pada aktivitas bisnis secara online yang mendunia baik itu produk maupun jasa. Tujuan dari E-Commerce adalah untuk mendapatkan atau menambah keuntungan dengan menggunakan WWW (world wide web) atau internet untuk membangun dan mempererat hubungan antara klien dan mitra kerja dan untuk meningkatkan effisiensi perusahaan.
Dalam prakteknya, E-Business bukan hanya sekedar e-commerce. Dimana E-Business lebih merujuk dalam hal fokus strategi dengan memberikan perhatian lebih pada penggunaan fungsi elektronik. Sedangkan E-Commerce merupakan bagian dari keseluruhan strategi E-Business. E-Business beberapa aplikasinya adalah dengan penggunaannya dalam pembelian secara elektronik dan supply chain management (sistem pembelian secara otomatis), proses order secara elektronik, costumer service, dan kerja sama dengan mitra kerja. Selain itu dalam kasus spesial E-Business dapat digunakan sebagai standart pertukaran data antara perusahaan. Sedangkan E-Commerce sendiri diaplikasikan dengan cara pembelian atau penjualan barang atau jasa dengan menggunakan internet, atau melakukan transaksi kepemilikan atau hak produk atau jasa melalui komputer.

Aplikasi dari E-Business dibagi menjadi tiga kategori:
1. Sistem bisnis internal:
o Customer relationship management
o Enterprise resource planning
o Human resources management

2. Komunikasi dan kerja sama Enterprise:
o Voice over internet protocol (VoIP)
o E-mail
o Voice mail
o Web conferencing

3. E-commerce, business-to-business E-commerce (B2B), atau business-to-customer E-commerce (B2C):
o Internet shop
o Supply chain management
o Online marketing

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Empat Tahap Evolusi E-Business

Empat Tahap Evolusi E-business

Jalan evolusi (perubahan secara perlahan, natural, namun pasti) merupakan cara yang nampaknya paling banyak dipilih oleh perusahaan-perusahaan di negara berkembang yang ingin menerapkan konsep e-business karena prinsip kehati-hatian yang mereka miliki. Hal utama yang harus dilakukan sehubungan dengan hal ini adalah mempelajari bagaimana sebaiknya langkah-langkah pengembangan tersebut harus dilakukan. Ada empat tahapan evolusi yang dapat dijadikan pegangan atau panduan bagi perusahaan yang ingin melakukan hal tersebut. Keempat tahapan tersebut masing-masing diberi istilah sebagai: Inform, Automate, Integrate, dan Reinvent.

Tahap Inform
Pada tahap awal ini, yang biasanya terjadi adalah adanya unit-unit kecil di dalam perusahaan yang mulai mencoba membangun program-program kecil (software) berbasis internet. Contohnya adalah pengembangan homepage yang menampilkan profil organisasi di internet, atau membangun website yang isinya adalah produk-produk dan jasa-jasa yang ditawarkan perusahaan kepada pelanggannya, atau sebuah situs yang berisi berita-berita mutakhir di bidang tertentu yang berkaitan dengan tugas sebuah unit perusahaan, dan lain-lain. Biasanya hal-hal kecil ini berasal dari ide salah satu atau sekelompok orang di unit organisasi terkait karena yang bersangkutan memiliki pemahaman dan pengalaman di bidang internet.



Sumber: Mohan Sawhney et al., 2001.

Berbagai proyek kecil ini biasanya bersifat jangka pendek dan tidak membutuhkan biaya besar. Karena sifatnya yang lebih sekedar menyebarkan informasi sehubungan dengan aktivitas terkait di dalam sebuah unit perusahaan, maka biasanya aplikasi-aplikasi tersebut bersifat mandiri dan bebas, dalam arti kata tidak diintegrasikan dengan perangkat lunak aplikasi lainnya yang ada di perusahaan. Berhasil tidaknya proyek e-business tersebut juga masih berdasarkan pada analisa atau kajian efisiensi yang dicapai. Katakanlah dengan adanya website profil perusahaan, maka tidak perlu lagi dilakukan pencetakan dokumen dalam beribu-ribu eksemplar karena para pelanggan dan mitra bisnis dapat melihatnya melalui internet; atau dengan adanya email maka biaya pengiriman dokumen dan kurir dapat ditekan; atau dengan dikembangkannya document management maka akan cukup signifikan memangkas biaya overhead kantor; dan lain sebagainya. Memulai e-business dengan melakukan cara-cara seperti yang dijelaskan di atas merupakan mekanisme yang cukup aman dan memiliki resiko kegagalan yang rendah. Walaupun manfaat yang diperoleh tidak begitu signifikan, tetapi value terbesar yang diperoleh adalah mulai memperkenalkan (sosialisasi) konsep e-business yang paling sederhana kepada segenap karyawan perusahaan.

Tahap Automate
Tahap berikutnya adalah mencoba untuk mengintegrasikan beberapa unit di dalam perusahaan yang masing-masing telah mengimplementasikan konsep kecil e-business. Yang menjadi dasar penggabungan modul-modul ini biasanya adalah sebuah rangkaian proses yang saling berhubungan. Contohnya adalah proses pengajuan anggaran dari masing-masing unit ke divisi keuangan. Melalui aplikasi atau modul situs yang lebih dinamis (berbasis database), setiap unit memasukkan rencana anggarannya ke dalam sebuah aplikasi dan bagian keuangan secara otomatis menerima konsolidasi anggaran dari seluruh unit yang ada di perusahaan. Contoh lainnya adalah di bagian pengadaan atau logistik yang secara otomatis melalui sebuah aplikasi database menerima pesanan pembelian barang dari berbagai unit yang ada di perusahaan. Keseluruhan rangkaian proses ini secara otomatis dibantu alurnya oleh aplikasi e-business. Tidak jarang pula kerap dikembangkan berbagai aplikasi yang melibatkan pelanggan (customers) dalam prosesnya. Misalnya adalah sistem pemesanan produk atau jasa melalui website, atau aplikasi pelayanan purna jual (CRM), dan lain sebagainya. Value yang dituju pada tahapan ini adalah efektivitas, yaitu sebuah hal yang pada awalnya sangat sulit untuk dilakukan, tetapi dengan adanya aplikasi e-business hal-hal baru dapat dilakukan oleh perusahaan.

Tahap Integrate
Tahap selanjutnya dari pengembangan aplikasi e-business adalah mengintegrasikan proses bisnis perusahaan dengan perusahaan atau entiti-entiti lain yang ada di luar perusahaan. Bedanya dengan automate yang lebih menekankan pada target efektivitas, pada integrate tujuan utama perusahaan adalah meningkatkan dan mengembangkan kinerja perusahaannya secara signifikan. Level integritas proses bisnis antara perusahaan dengan pihak luar pada tahapan ini sangat tinggi; bahkan tidak jarang dibutuhkan suatu manajemen integrasi proses bisnis yang online dan real-time. Contoh yang kerap dipakai untuk mengilustrasikan tahap ini adalah aplikasi “package delivery tracking” yang dimiliki Federal Express maupun DHL yang memungkinkan pelanggan melalui komputernya (internet) melacak status pengiriman paketnya (yang bersangkutan dapat mengetahui posisi terkini dari paket yang dimaksud). Contoh lain adalah aplikasi e-business yang diterapkan di industri penerbangan dimana perusahaan dapat mengetahui secara persis lokasi terkini dari seluruh awak pesawatnya baik yang sedang terbang maupun istirahat. Proses pemesanan tiket bioskop atau pertandingan olah raga melalui internet yang memungkinkan seorang pelanggan untuk memilih spesifik bangku yang diinginkan juga merupakan salah satu implementasi dari e-business pada tahapan ini. Value terbesar yang diperoleh perusahaan di sini adalah meningkatnya keunggulan kompetitif (hal yang membedakan perusahaan dengan para pesaingnya).

Tahap Reinvent
Tahap terakhir di dalam evolusi dapat secara efektif diimplementasikan jika ada perubahan paradigma mendasar dari manajemen perusahaan, terutama yang berkaitan dengan cara mereka melihat bisnis yang ada. Tahap ini dinamakan sebagai “reinvent” karena perusahaan yang telah memiliki pengalaman sukses menerapkan konsep e-business pada tiga tahap sebelumnya ditantang untuk mendefinisikan ulang mekanisme dan model bisnisnya dengan berpedoman pada peluang-peluang usaha baru yang ditawarkan oleh e-business. Lihatlah bagaimana perusahaan retail dan distribusi merubah total bisnisnya menjadi penyedia jasa informasi (portal) sehubungan dengan consumer products yang ditawarkan, atau perusahaan pembuat perangkat lunak aplikasi internet yang meredifinisikan ulang usahanya menjadi perusahaan outsourcing di bidang Customer Relationship Management, atau perusahaan penjual buku-buku asing yang berubah menjadi perusahaan penterjemah bahasa-bahasa asing, dan lain sebagainya. Kata kunci di dalam tahap ini adalah “business transformation” dan “industry convergence”; dimana karena semakin kaburnya batas-batas segmen industri yang ada, perusahaan dapat menawarkan berbagai jenis produk atau jasa yang belum pernah terfikirkan sebelumnya, yang pada akhirnya dapat merubah bisnis inti yang sedang digelutinya

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

perbankan indonesia

Perbankan Indonesia dan E-Banking

Salah satu sektor yang paling dramatis terpengaruh oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi adalah perbankan. Sebelumnya mari kita lihat kilas balik dan perkembangan terkini mengenai perbankan Indonesia. Setelah lebih dari seperempat abad terhitung dari deregulasi pada tahun 1983, perbankan Indonesia telah mengalami berbagai gonjang-ganjing yang sangat mempengaruhi perekonomian Indonesia. Titik nadir perbankan sendiri terjadi menjelang krisis multidimensi yang terjadi pada tahun 1997 yang dikenal sebagai krisis moneter. Beberapa tonggak penting perjalanan dalam kurun waktu tersebut adalah sebagai berikut.

Kilas Balik Perbankan Indonesia

1. Paket 1 Juni 1983 merupakan salah satu tonggak penting yang mengubah arah perbankan nasional yang tadinya belum mengikuti mekanisme pasar, atau dengan kata lain, mulai diterapkannya equal treatment antara bank pemerintah dengan bank swasta.

2. Kebijakan Oktober 1988 menjadi faktor utama terjadinya booming pendirian bank dengan memberikan kemudahan bagi para investor. Dalam kurun waktu 3 tahun sesudahnya, tercatat jumlah bank meningkat dari 111 bank pada tahun 1988 menjadi 182 bank pada pertengahan 1991. Pertumbuhan bank beserta kegiatan penyaluran dana bank yang luar biasa tersebut akhirnya berujung pada tindakan kebijakan uang ketat (Tight Money Policy) yang diambil oleh Bank Indonesia pada Tahun 1990.

3. Pakfeb 1991, yang bertujuan untuk mengembangkan dunia perbankan menjadi lembaga keuangan yang sehat, kuat, dan tangguh serta lebih dipercaya baik dalam tingkat nasional maupun global. Sistem penilaian kesehatan bank dengan CAMEL mulai diterapkan oleh Bank Indonesia, termasuk penetapan nilai CAR sebesar 8 persen yang harus dipenuhi mulai tahun 1993.

4. Bom waktu perbankan akhirnya meledak, dan tidak tanggung-tanggung dampak letusannya terhadap perekonomian Indonesia. Pada November 1997 sejumlah bank mulai rontok yang diawali dengan ditutupnya 16 bank yang akhirnya menyeret Indonesia ke krisis moneter yang tak terlupakan dalam sejarah perekonomian Indonesia.

5. Pada tahun 1998 dibentuk BPPN sebagai lembaga yang berusaha untuk menyelamatkan wajah perbankan Indonesia. BPPN lahir sebagai salah satu butir dalam serangkaian Letter of Intent (LOI) antara Pemerintah Indonesia dengan IMF, dengan LOI pertamanya ditandatangani pada 1 November 1997. Pembentukan BPPN ini dianggap sebagai awal proses rehabilitasi terhadap industri perbankan. Pada tahun 1998, dari 55 bank yang dirawat oleh BPPN ternyata 10 bank tidak tertolong (dilikuidasi), 4 bank harus masuk unit gawat darurat (direkapitalisasi), dan sisanya masih terus dirawat intensif. Pada maret 1999 38 bank kembali tak tertolong, 9 bank direkapitalisasi, dan 7 bank diambil alih.

6. Perbankan Indonesia sudah memasuki tahap konsolidasi yang ditandai dengan diluncurkannya Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Bank Indonesia telah meluncurkan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) pada bulan Januari 2004, sebagai awal dari tahap konsolidasi perbankan Indonesia. Ke dapannya, bank-bank Indonesia digolongkan kedalam 4 kelompok bank yaitu bank Internasional, bank nasional, bank fokus, dan bank dengan cakupan usaha terbatas. Pengelompokkan bank tersebut didasarkan pada kemampuan modalnya.

7. Terakhir adalah paket Oktober 2006 (Pakto) yang dikeluarkan oleh BI. Salah satu maksudnya adalah untuk mendorong perbankan nasional dalam meningkatkan penyaluran kredit tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian. Pakto ini mencakup 13 Peraturan Bank Indonesia, dua diantaranya adalah mengenai pelarangan kepemilikan tunggal dan pelaksanaan Good Corporate Governance.

Kilas balik yang penuh gejolak tersebut tidak menghalangi peranan perbankan sebagai sub sektor ekonomi yang paling sentral peranannya dalam memobilisasi dana masyarakat. Mengacu ke laporan Bank Indonesia, sampai dengan bulan Juli 2007, jumlah bank yang beroperasi di Indonesia tercatat sebanyak 130 bank umum dan 1816 BPR. Total aset perbankan nasional adalah Rp 1.801.094,- Milyar, belum termasuk asset BPR sebesar Rp 25.140,- Milyar. Total simpanan masyarakat atau dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun oleh bank umum adalah adalah sebesar Rp 1.562.070,- Milyar dan oleh BPR sebanyak Rp 20.537,- Milyar. Memang sebuah angka yang luar biasa dan terus meningkat dari tahun ke tahun.Angka-angka tersebut menunjukkan beberapa hal yang menarik. Pertama, masyarakat Indonesia masih menaruh kepercayaan terhadap perbankan sebagai alternatif investasi dan sebagai institusi penyimpanan dana. Fungsi agent of trust ini tentunya membawa konsekuensi terhadap pentingnya masalah intergritas institusi dan individu di bidang perbankan.

Kedua, angka tersebut menunjukkan dominasi atau ketergantungan terhadap bank sebagai lembaga penyimpan sekaligus lembaga pembiayaan dalam perekekonomian Indonesia. Total aset perbankan yang lebih dari 1800 triliun tersebut adalah dua kali lipat dari PDB Indonesia, yang sampai triwulan I 2007 tercatat sebesar 915,9 triliun. Angka tersebut juga terlihat luar biasa dibandingkan dengan total aset perusahaan asuransi jiwa- yang tercatat hanya sebesar Rp 82 triliun pada kuartal II 2007. Ketergantungan tersebut tentunya- di sisi lain, memang mengandung resiko tinggi jika tidak dikelola dengan baik oleh pelaku-pelaku di industri perbankan.

Ketiga, jumlah aset dan dana masyarakat yang luar biasa tersebut tentunya memerlukan kapasitas atau produktifitas yang tinggi, baik secara institusi maupun Sumber Daya Manusia di bidang perbankan. Sebagai ilustrasi, dengan jumlah kantor bank umum sebanyak 9492 maka setiap kantor harus mengelola dana masyarakat sekitar Rp 165 Milyar per kantor. Jika dana masyarakat dibagi dengan jumlah karyawan bank yang berjumlah sekitar 100.000 orang maka setiap karyawan bank mengelola dana masyarakat sekitar Rp 15 Milyar per orang. Kapasitas intitusi dan individu yang bergerak di industri perbankan tersebut tentunya memerlukan fasilitas atau alat bantu dalam pengolahaan dana dan berbagai layanan jasa keuangan terkait lainnya. Disinilah fungsi dari teknologi informasi dan komunikasi di industri perbankan.

Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di perbankan nasional relatif lebih maju dibandingkan sektor lainnya. Berbagai jenis teknologinya diantaranya meliputi Automated Teller Machine, Banking Application System, Real Time Gross Settlement System, Sistem Kliring Elektronik, dan internet banking. Bank Indonesia sendiri lebih sering menggunakan istilah Teknologi Sistem Informasi (TSI) Perbankan untuk semua terapan teknologi informasi dan komunikasi dalam layanan perbankan. Istilah lain yang lebih populer adalah Electronic Banking. Electronic banking mencakup wilayah yang luas dari teknologi yang berkembang pesat akhir-akhir ini. Beberapa diantaranya terkait dengan layanan perbankan di “garis depan” atau front end, seperti ATM dan komputerisiasi (sistem) perbankan, dan beberapa kelompok lainnya bersifat back end, yaitu teknologi-teknologi yang digunakan oleh lembaga keuangan, merchant, atau penyedia jasa transaksi, misalnya electronic check conversion.

Saat ini sebagian besar layanan E-banking terkait langsung dengan rekening bank. Jenis E-Banking yang tidak terkait rekening biasanya berbentuk nilai moneter yang tersimpan dalam basis data atau dalam sebuah kartu (chip dalam smartcard). Dengan semakin berkembangnya teknologi dan kompleksitas transaksi, berbagai jenis E-banking semakin sulit dibedakan karena fungsi dan fiturnya cenderung terintegrasi atau mengalami konvergensi. Sebagai contoh, sebuah kartu plastik mungkin memiliki “magnetic strip”- yang memungkinkan transaksi terkait dengan rekening bank, dan juga memiliki nilai moneter yang tersimpan dalam sebuah chip. Kadang kedua jenis kartu tersebut disebut “debit card” oleh merchant atau vendor. Beberapa gambaran umum mengenai jenis-jenis teknologi E-Banking dapat dilihat di bawah ini.

Jenis-Jenis Teknologi E-Banking

Automated Teller Machine (ATM). Terminal elektronik yang disediakan lembaga keuangan atau perusahaan lainnya yang membolehkan nasabah untuk melakukan penarikan tunai dari rekening simpanannya di bank, melakukan setoran, cek saldo, atau pemindahan dana.

Computer Banking. Layanan bank yang bisa diakses oleh nasabah melalui koneksi internet ke pusat data bank, untuk melakukan beberapa layanan perbankan, menerima dan membayar tagihan, dan lain-lain.

Debit (or check) Card. Kartu yang digunakan pada ATM atau terminal point-of-sale (POS) yang memungkinkan pelanggan memperoleh dana yang langsung didebet (diambil) dari rekening banknya.

Direct Deposit. Salah satu bentuk pembayaran yang dilakukan oleh organisasi (misalnya pemberi kerja atau instansi pemerintah) yang membayar sejumlah dana (misalnya gaji atau pensiun) melalui transfer elektronik. Dana ditransfer langsung ke setiap rekening nasabah.

Direct Payment (also electronic bill payment). Salah satu bentuk pembayaran yang mengizinkan nasabah untuk membayar tagihan melalui transfer dana elektronik. Dana tersebut secara elektronik ditransfer dari rekening nasabah ke rekening kreditor. Direct payment berbeda dari preauthorized debit dalam hal ini, nasabah harus menginisiasi setiap transaksi direct payment.

Electronic Bill Presentment and Payment (EBPP). Bentuk pembayaran tagihan yang disampaikan atau diinformasikan ke nasabah atau pelanggan secara online, misalnya melalui email atau catatan dalam rekening bank. Setelah penyampaian tagihan tersebut, pelanggan boleh membayar tagihan tersebut secara online juga. Pembayaran tersebut secara elektronik akan mengurangi saldo simpanan pelanggan tersebut.

Electronic Check Conversion. Proses konversi informasi yang tertuang dalam cek (nomor rekening, jumlah transaksi, dll) ke dalam format elektronik agar bisa dilakukan pemindahan dana elektronik atau proses lebih lanjut.

Electronic Fund Transfer (EFT). Perpindahan “uang” atau “pinjaman” dari satu rekening ke rekening lainnya melalui media elektronik.

Payroll Card. Salah satu tipe “stored-value card” yang diterbitkan oelh pemberi kerja sebagai pengganti cek yang memungkinkan pegawainya mengakses pembayaraannya pada terminal ATM atau Point of Sales. Pemberi kerja menambahkan nilai pembayaran pegawai ke kartu tersebut secara elektronik.

Preauthorized Debit (or automatic bill payment). Bentuk pembayaran yang mengizinkan nasabah untuk mengotorisasi pembayaran rutin otomatis yang diambil dari rekening banknya pada tanggal-tangal tertentu dan biasanya dengan jumlah pembayaran tertentu (misalnya pembayaran listrik, tagihan telpon, dll). Dana secara elektronik ditransfer dari rekening pelanggan ke rekening kreditor (misalnya PLN atau PT Telkom).

Prepaid Card. Salah satu tipe Stored-Value Card yang menyimpan nilai moneter di dalamnya dan sebelumnya pelanggan sudah membayar nilai tersebut ke penerbit kartu.

Smart Card. Salah satu tipe stored-value card yang di dalamnya tertanam satu atau lebih chips atau microprocessors sehingga bisa menyimpan data, melakukan perhitungan, atau melakukan proses untuk tujuan khusus (misalnya validasi PIN, otorisasi pembelian, verifikasi saldo rekening, dan menyimpan data pribadi). Kartu ini bisa digunakan pada sistem terbuka (misalnya untuk pembayaran transportasi publik) atau sistem tertutup (misalnya MasterCard atau Visa networks).

Stored-Value Card. Kartu yang di dalamnya tersimpan sejumlah nilai moneter, yang diisi melalui pembayaran sebelumnya oleh pelanggan atau melalui simpanan yang diberikan oleh pemberi kerja atau perusahaan lain. Untuk single-purpose stored value card, penerbit (issuer) dan penerima (acceptor) kartu adalah perusahaan yang sama dan dana pada kartu tersebut menunjukkan pembayaran di muka untuk penggunaan barang dan jasa tertentu (misalnya kartu telpon). Limited-purpose card secara umum digunakan secara terbatas pada terminal POS yang teridentifikasi sebelumnya di lokasi-lokasi tertentu (misalnya vending machines di sekolah-sekolah). Sedangkan multi-purpose card dapat digunakan pada beberapa penyedia jasa dengan kisaran yang lebih luas, misalnya kartu dengan logo MasterCard, Visa, atau logo lainnya dalam jaringan antar bank.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Model Adopsi Teknologi Informasi dengan E-Bussines


MODEL ADOPSI TEKNOLOGI INFORMASI

Salah satu fenomena yang cukup menarik di era globalisasi dan informasi saat ini adalah begitu hebatnya laju perkembangan dan penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) pada semua aspek kehidupan manusia. Apakah TIK memang merupakan ”obat mujarab” yang bisa menyelesaikan semua masalah manusia? Apakah teknologi informasi dan komunikasi tersebut selalu memberikan manfaat yang positif buat manusia sebagai pengguna akhirnya? Lalu mengapa ada fenomena perusahaan yang gagal dan ada yang berhasil dalam mengeimplementasikan TIK? Salah satu upaya untuk untuk memahami berbagai fenomena dan pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah melalui kajian terhadap teori atau model adopsi TIK.

Berbagai teori perilaku (behavioral theory) banyak digunakan untuk mengkaji proses adopsi teknologi informasi oleh pengguna akhir (end users), diantaranya adalah Theory of Reason Action, Theory of Planned Behaviour, Task-Technology Fit Theory, dan Technology Acceptance Model. Technology Acceptance Model (TAM) merupakan model penelitian yang paling luas digunakan untuk meneliti adopsi teknologi informasi. Lee, Kozar, dan Larsen (2003) menjelaskan bahwa dalam kurun waktu 18 tahun terakhir TAM merupakan model yang popular dan banyak digunakan dalam berbagai penelitian mengenai proses adopsi teknologi informasi. Model atau teori yang paling mutakhir adalah Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT), yang dikemukakan pertama kali oleh Venkantesh (2003).

Penulis sendiri sudah menggunakan berbagai model-model tersebut untuk memahami adopsi E-banking, E-Payment System, E-bisnis, Aplikasi Perkantoran, Automated Teller Machine (ATM), Enterprise Resource Planning (ERP), dan beberapa website perusahaan, termasuk website yang berada di lingkungan UG (career center, digital library, dan studentsite). Gambaran ”sangat singkat” mengenai beberapa model adopsi tersebut adalah sebagai berikut:

Theory of Reason Action

Kings dan Gribbins (2002) menyebutkan bahwa pada akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an, Fishbein and Ajzen telah mulai mengembangkan suatu teori yang membantu para peneliti untuk memahami dan memprediksi sikap dan perilaku individu. TRA telah berhasil memprediksi dan menjelaskan perilaku pada berbagai wilayah kajian. Teori tersebut paling sering digunakan sebagi model teoritis dalam sistem informasi. Davis, Bagozzi, dan Warshaw (1989) menyatakan bahwa kinerja seseorang mengenai perilaku tertentu ditentukan oleh tujuan untuk menjalankan prilaku, dan tujuan tersebut ditentukan oleh sikap dan norma subyektif.


Theory of Planned Behavior

TPB merupakan perluasan dari TRA, yaitu dengan penambahan variabel perceived behavioral control-selain prilaku dan norma subyektif, untuk menerangkan situasi dimana individu tidak memiliki pengendalian terhadap perilaku yang diinginkannya (Ajzen, 1991) di dalam Chau dan Hu (2001). Menurut King (2003), penelitian mengenai adopsi teknologi sudah menggunakan TRA dan TPB sebagai model teoritisnya, tetapi TRA lebih umum digunakan. Chau dan Hu (2001) menggabungkan TPB dengan TAM. Variabel pengendaliannya diukur dengan 3 indikator yaitu kemampuan, pengetahuan, dan sumber daya yang dimiliki.

Social Cognitive Theory

Compeau dan Higgins (1999) sudah menggunakan model yang didasarkan pada teori kognitif yang dikembangkan oleh Badura untuk menguji pengaruh computer self-efficacy, ekspektasi hasil, minat atau perhatian, serta kecemasan terhadap penggunaan komputer. Dalam teori ini self-efficacy merupakan antecedent terhadap penggunaan teknologi. Tanggapan emosional seperti perhatian dan kecemasan dipengaruhi oleh self-efficacy.

Task-Technology Fit Theory


Inti dari model ini adalah konstruk yang disebut kecocokan tugas dengan teknologi atau Task-Technology Fit (TTF), yaitu kesesuaian antara kemampuan teknologi dengan tuntutan pekerjaan, atau kemampuan teknologi untuk mendukung pekerjaan (Goodhue and Thompson, 1995) di dalam Dishaw, Strong, dan Bandy (2002). Beberapa penelitian yang menggunakan teori atau kontruk tersebut, sebagai pembanding atau dikombinasikan dengan TAM, diantaranya adalah Thompson, Higgins, dan Howell (1991) dengan model utilisasi personnel computer (PC), serta Venkantesh dan Davis (2000) dan Klopping dan McKinney (2004) yang menggunakan varibel kesesuaian tersebut sebagai variabel eksternal terhadap TAM.

Technology Acceptance Model

TAM, yang diperkenalkan pertama kali oleh Fred D. Davis pada tahun 1986, adalah adaptasi dari TRA yang dibuat khusus untuk pemodelan penerimaan pengguna terhadap system informasi. Menurut Davis (1989), tujuan utama TAM adalah untuk memberikan dasar untuk penelusuran pengaruh faktor eksternal terhadap kepercayaan, sikap, dan tujuan pengguna. TAM menganggap bahwa 2 keyakinan individual, yaitu persepsi manfaat (perceived usefulness, disingkat PU) dan persepsi kemudahan penggunaan (perceived easy of use, disingkat PEOU), adalah pengaruh utama untuk perilaku penerimaan komputer.

Unified Theory of Acceptance and Use of Technology

UTAUT Model, yang dikemukan oleh Venkatesh etall (2003), merupakan model yang disusun berdasarkan teori-teori dasar mengenai perilaku pengguna teknologi dan model penerimaan teknologi yaitu TRA, TAM, TPB, motivational model, Model Pemanfaatan Personal Computer, teori difusi inovasi, dan SCT. Model ini terdiri dari 4 variabel sebagai determinant terhadap tujuan dan penggunaan teknologi informasi yaitu ekspektasi kinerja, ekspektasi usaha, pengaruh social, dan kondisi pendukung; serta 4 variabel sebagai moderator antara determinant dengan tujuan dan penggunaan teknologi informasi, yaitu jenis kelamin, usia, pengalaman, dan voluntariness.

Sumber: Dari berbagai narasumber

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Aplikasi bisnis oracle

Aplikasi Bisnis Oracle Sukseskan
Proses Bisnis Enseval
Print E-mail
Tuesday, 14 August 2007

Jakarta -- PT. Enselval Putera Megatrading (Enseval), salah satu perusahaan besar distribusi dalam bisnis farmasi Indonesia, hari ini, tepatnya tanggal 14 Agustus 2007 di Hotel Shangrilla, umumkan kesuksesan Enseval dalam mengimplementasikan teknologi Oracle E-Business Suite.


Image
Adi J. Rusli, Managing Director, Oracle Indonesia dan Vidjongtius, President Director, Enseval.

Implementasi Oracle E-Business Suite yang digunakan Enseval meliputi modul utama untuk kebutuhan finansial; Order Management; Inventory Management; Procurement; Warehouse Management System; Demand Planning; dan Advance Supply Chain Planning. Solusi mutakhir ini mampu menciptakan kemudahan dan sentralisasi semua proses bisnis Enseval dalam mendukung volume transaksi yang terus meningkat dan mampu menggabungkan proses dari unit yang berbeda. Dengan begitu, semua aktivitas back office semakin lebih mudah diatur secara efisien untuk pengembalian modal yang lebih cepat.

Dengan Oracle E-Business Suite, Adi J. Rusli, Managing Director, Oracle Indonesia memastikan, "Kita percaya bahwa Enseval akan mendapatkan keuntungan dari solusi aplikasi Oracle yang terskala dan yang terintegrasi dengan mudah dengan piranti lunak dan keras yang telah ada. Arus proses bisnis yang terbaik di kelasnya memungkinkan untuk mengubah proses bisnis dengan cepat untuk menjawab semua kebutuhan bisnis Enseval. Ini adalah komitmen kita untuk memberikan Enseval solusi aplikasi yang terintegrasi dan terbaik dari Oracle."

Menurut Vidjongtius, President Director, Enseval, " Implementasi Oracle Warehouse Menagement System kami mencapai "live" dalam waktu hanya empat bulan, lebih cepat sebulan dari waktu yang diperkirakan. Hal ini menunjukkan pengetahuan Oracle dalam menggabungkan solusi merka dengan proses bisnis kita yang kompleks."
Dengan aplikasi bisnis yang ditawarkan Oracle, manfaat yang langsung dirasakan oleh Enseval diantaranya, "Mengurangi duplikasi, yakni penggunaan satu data dari awal hingga selesai; mengurangi pekerjaan manual, sehingga lebih efisien dan dapat meminimalisir kesalahan yang dibuat oleh manusia, serta penghematan biaya untuk perjalanan dinas." tambah Vidjongtius.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

manfaat dari e-Business

Evolusi Paradigma Ekonomi dan Peran ICT

Paradigma ekonomi selalu terjalin erat dengan perkembangan sosial budaya masyarakat dan teknologi dominan yang mewarnai kehidupannya. Proses yang melibatkan teknologi ke dalam masyarakat secara luas akan memunculkan suatu model pemvisian masa depan secara bersama-sama. Sebagai contoh, Internet telah berhasil secara luas diterima sebagai bagian dari kehidupan moderen. Di kalangan tertentu, hal itu memunculkan apa yang disebut dengan new economy, sebagai kontribusi dari era ekonomi informasi yang menambahkan nilai nir-batas (borderless), transparansi, free-trade, real-time, dan demokratisasi pada ekonomi sebelumnya.

Namun, karena perubahan era new economy lebih banyak diwarnai oleh eforia bisnis dot.com, maka istilah ini mulai ditinggalkan dan sebagian kalangan lebih memilih istilah real-economy, yaitu nilai-nilai old economy yang diperkuat oleh adanya teknologi informasi dan komunikasi (ICT – Information and Communication Technology).

Mari kita tengok proses transformasi nilai dari paradigma ekonomi dan peran ICT dalam sejarah peradaban manusia ditinjau dari dua aspek, yaitu: Kunci Perubahan (key determinant) dan Alat Tukar (exchange media) dimulai dari jaman purba atau tradisional. Pada awalnya, ekonomi dimulai dari Era Manfaat Langsung (direct benefit), dimana sumber daya yang diberikan alam langsung dimanfaatkan oleh manusia. Misalnya ketika manusia lapar, maka buah dan sayuran yang ada di hutan langsung dimakan, tanpa diolah lebih lanjut. Pada era ini belum ada alat tukar.

Era berikutnya memunculkan Era Nilai Barang (goods value), dimana orang sudah mampu melihat bahwa hasil alam dapat saling dipertukarkan. Masyarakat, pada saat itu, mulai melakukan produksi dengan berkebun atau mengelola ladang menggunakan teknologi yang lebih baik untuk nanti hasilnya ditukarkan dengan komoditas lain, misalnya kayu bakar ditukar dengan buah-buahan. Yang menarik, pada Era Nilai Barang, nilai manfaat langsung mulai mengecil. Misalnya, satu tandan pisang ditukar dengan sepuluh batang kayu. Disini terlihat bahwa manfaat langsung pisang menjadi tidak lagi dominan, karena nilainya sudah berganti menjadi kayu. Di masa ini mulai dikenal istilah barter, uang, dan emas sebagai alat tukar.

Evolusi berikutnya adalah transformasi dari Era Nilai Barang ke Nilai Ekonomi (economic value). Pada era ini, suatu barang atau komoditas nilainya bisa berbeda-beda tergantung di mana dia diperoleh. Hal itu karena kunci perubahan menambahkan aspek distribusi, selain aspek produksi. Buah salak Bali di petani dengan buah salak Bali yang sudah sampai di supermarket di Jakarta, harganya jauh berbeda. Kita lihat pada Era Nilai Ekonomi, nilai barang semakin mengecil, dan begitu juga nilai manfaat langsungnya.

Selanjutnya, Era Nilai Ekonomi berubah pada sekitar tahun 40-an dengan mulai diperkenalkannya sistem nilai baru, yaitu Nilai Pasar Saham dan Nilai Pasar Uang. Faktor perubahannya adalah adanya pasar modal dan pasar uang. Pada era ini, suatu usaha produksi barang atau jasa dikapitalisasi dengan adanya penjualan saham perusahaan. Nilai ekonomi, nilai barang dan nilai manfaat langsung menjadi tidak signifikan. Sebagai contoh, TELKOM yang mengelola layanan telepon sekitar 8,2 juta pelanggan kalah nilainya dibandingkan perusahaan telekomunikasi Singapura, SINGTEL, yang hanya mengelola 3,5 juta pelanggan. Lebih tidak masuk akal lagi adalah setelah alat tukar, yaitu mata uang, menjadi komoditas yang diperjualbelikan, tiba-tiba komoditas Indonesia yang sama dengan di negara lain, nilai jualnya anjlok menjadi seperempatnya dalam mata uang Dolar daripada nilai sebelumnya.

Perkembangan terakhir makin menunjukkan kesenjangan antara Information have dan Information don’t have. Hal ini karena baik pasar uang, pasar modal, maupun pasar komoditas pada dasarnya dikuasai oleh mereka yang memiliki jaringan informasi. Saat ini dan kedepan, paradigma ekonomi akan masuk ke era yang disebut Era Systemic Value. Yaitu, bahwa daya saing ekonomi kedepan adalah dari kemampuan kita membangun kolaborasi dan networking yang saling memperkuat atau interdependen dalam suatu kesisteman (collaborative advantages). Persaingan tidak lagi terjadi antar negara, tetapi antar korporasi berikut jaringan mitra strategisnya. Tanpa keunggulan systemic value mustahil kita dapat bersaing dan mampu mengatasi turbulensi ekonomi.

Untuk itu, kita mesti belajar dari negara-negara seperti Cina, Taiwan, dan Korea yang mampu menggalang systemic value dari industrinya yang bernilai tambah mulai dari raw material, produk setengah jadi, sampai produk jadi membentuk struktur rantai nilai tambah Business-to-Business-to-Customer (B2B2C). Teknologi informasi dan komunikasi (ICT) yang efektif melalui penerapan e-Business, e-Government, e-Citizen, dan e-Law merupakan infrastruktur mutlak terwujudnya systemic value yang tangguh.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS